Nelwanews ║ Nasional – Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah perairan Selat Sunda kembali mengalami peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Gunung api aktif tersebut tercatat melontarkan fenomena lava fountain (pancuran lava pijar) setinggi 400 meter dari kawahnya, serta memuntahkan abu vulkanik dan batu pijar secara terus-menerus sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9/2026).
Dentuman keras dan getaran akibat letusan dirasakan cukup kuat oleh warga di kawasan pesisir Banten, seperti Kecamatan Labuan dan Carita di Kabupaten Pandeglang, hingga Pos Pantau Pasauran di Kabupaten Serang. Suara dentuman yang merambat melalui udara tersebut memicu gelombang kecemasan bagi warga pesisir. Mengantisipasi potensi bahaya erupsi susulan, sejumlah warga memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat di lokasi yang lebih aman.
Selain di daratan, erupsi Gunung Anak Krakatau turut membahayakan aktivitas pelayaran. Sejumlah nelayan dan pemancing yang beraktivitas di Selat Sunda terpaksa memutar balik kapal mereka akibat terjangan ombak besar dan guyuran hujan abu vulkanik di tengah laut.
Enam Gunung Api Berstatus Level III (Siaga)
Pada tanggal 3 September 2026, aktivitas Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara tercatat masih tinggi. Gunung Api Sinabung masih terpantau terus mengeluarkan hembusan abu tebal berwarna coklat. Akibatnya, sebanyak 650 jiwa dari 207 kepala keluarga memilih mengungsi di tenda pengungsian. Warga pun diimbau tidak panik dan tetap waspada dengan menjauhi zona merah Gunung Api Sinabung.
Sebelumnya, pada 2 September 2026, meski
belum menunjukkan peningkatan signifikan, aktivitas Gunung Api lbu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara masih terus mengalami erupsi setiap harinya. Masyarakat sekitar diminta waspada terhadap paparan debu vulkanik saat beraktivitas di luar rumah.
Enam gunung api tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus dengan Gunung Sinabuh menjadi perhatian setelah statusnya naik menjadi siaga. Bahkan sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi gunung Krakatau mengalami erupsi lalu. Seberapa serius aktivitas ini dan apa yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Berdasarkan Laporan Aktivitas Gunung Api (Volcanic Activity Report) resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM pada Sabtu, 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). Petugas pengamat Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, A.Md., melaporkan bahwa tubuh gunung api sempat tertutup Kabut 0-III, asap kawah tidak teramati secara visual, dan cuaca berawan hingga mendung dengan angin lemah berembus ke arah barat laut.
Tidak hanya Gunung Anak Krakatau, laporan PVMBG mencatat sedikitnya lima gunung api aktif lainnya di Indonesia yang secara bersamaan berada pada Level III (Siaga) pada periode pengamatan 5 September 2026, di antaranya:
• Gunung Sinabung (Sumatera Utara): Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal setinggi 100–500 meter dari puncak (laporan pengamat Henry M.T. Sinratupang dan Armen Putra).
• Gunung Semeru (Jawa Timur): Teramati asap kawah dengan intensitas tipis hingga sedang setinggi 100–300 meter dari puncak (laporan pengamat Sigit Rian Alfian dan Agustya Hapsara).
• Gunung Merapi (DI Yogyakarta/Jawa Tengah): Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang setinggi 50 meter dari puncak (laporan pengamat Yulianto dan Sutani).
• Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur): Teramati asap kawah berwarna putih tebal setinggi 50–700 meter dari puncak (laporan pengamat Herman Yosef S. Mboro).
• Gunung Ibu (Maluku Utara): Mengalami erupsi harian dengan tinggi kolom erupsi berkisar 200 hingga 1.000 meter.
Imbauan Kebencanaan dan Analisis Pakar
Seperti dilansir dari tayangan dialog METRO bersama Pakar Geofisika dan Vulkanologi, Surono (Mbah Rono), peningkatan aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan ini tidak saling terhubung secara tektonik maupun jaringan magma. Masing-masing gunung memiliki kantong dapur magma dan kontrol tektonik yang berbeda. Pak Surono menjelaskan bahwa gunung api muda seperti Anak Krakatau dan Gunung Ibu memang perlu sering meletus guna membangun dan memperbesar struktur tubuh gunungnya.
Namun, potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai masyarakat saat ini adalah paparan abu vulkanik halus. Hujan abu halus dilaporkan telah mencapai wilayah pesisir Banten hingga sebagian wilayah Lampung.
“Debu halus erupsi mengandung konsentrasi silika yang cukup tinggi. Masyarakat diimbau untuk selalu mengenakan masker penutup hidung dan mulut guna menghindari risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Jika abu menempel pada kaca kendaraan atau tanaman pakan ternak, sebaiknya disiram dengan air terlebih dahulu sebelum dibersihkan,” jelas Pak Surono dalam wawancaranya bersama Metro.
Rekomendasi Aman bagi Masyarakat
PVMBG dan pihak kepolisian setempat mengimbau seluruh elemen masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk:
• Mematuhi Radius Bahaya: Dilarang mendekati atau melakukan aktivitas di dalam radius bahaya 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau, serta mematuhi batas zona merah di gunung api lainnya.
• Protokol Kesehatan: Menggunakan masker dan kaca mata pelindung saat beraktivitas di luar rumah guna menghindari iritasi mata dan ISPA akibat abu vulkanik.
• Keselamatan Pelayaran: Kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekati kawasan rawan.
• Waspada Hoaks: Masyarakat diminta tetap tenang, tidak panik, dan selalu memverifikasi informasi resmi melalui kanal PVMBG (MAGMA Indonesia) atau pemerintah daerah setempat.
Soroso mengatakan lebih lanjut bahwa letusan Gunung Api bukan virus yang bisa menulari gunung api lainnya. Gunung api memang harus meletus, biar kecil-kecil letusannya, daripada menyimpan energi. Namun, beberapa lokasi berbahaya harus direlokasi dan harus kosong.
“Jadi dulu zaman masih era Pak SBY sampai ke Pak Jokowi itu saya sudah menyampaikan beberapa daerah itu harus kosong, harus direlokasikan. Kami sampaikan harus ada relokasi. Kalau sekarang masih ada pengungsian, saat ada letusan kecil, itu artinya yang harus relokasi dulu itu belum dilaksanakan. Tidak elok juga, kasihan masyarakatnya tidak sempat membangun keluarganya, tidak bisa membangun ekonominya, kalau setiap saat harus mengungsi,” katanya.



