Saat Bencana Jadi Panggung, Siapa Mengurus Luka Lama?
Nelwanews.com, PADANG — Setiap bencana datang, perhatian pemerintah, pejabat dan media seketika tertuju ke lokasi. Bantuan disalurkan, kunjungan dilakukan, kamera merekam, dan pernyataan disampaikan. Namun, ketika sorotan mulai mereda, muncul pertanyaan: siapa yang memastikan luka akibat bencana sebelumnya benar-benar disembuhkan?
Galodo Kabupaten Solok September 2026 kini menjadi perhatian besar. Kerusakan dan penderitaan masyarakat memang membutuhkan penanganan cepat. Tetapi jangan sampai besarnya sorotan terhadap bencana baru membuat persoalan lama terlupakan.
Kota Padang sendiri mengalami banjir, longsor dan banjir bandang pada akhir 2025. Infrastruktur rusak, warga terdampak dan sejumlah fasilitas pelayanan publik terganggu. Setelah masa tanggap darurat berakhir, pekerjaan besar justru dimulai: membangun kembali dan memperkuat infrastruktur agar bencana serupa tidak terus berulang.
Di sinilah tanggung jawab pemerintah seharusnya diuji. Bukan hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga hadir ketika kamera sudah pergi dan pemberitaan telah berhenti.
Tapi mencari solusi jangan terjadi di lokasi yang lain di Sumatera Barat, apa penyebabnya, apa yang dikoreksi dan harus dihentikan, apa yang merusak alam, hingga alam marah.
Jangan sampai bencana menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling cepat datang, paling banyak berbicara dan paling sering diberitakan, sementara drainase yang rusak, jalan yang belum diperbaiki, jembatan yang membutuhkan penguatan, serta sistem pengendalian banjir masih menjadi pekerjaan rumah.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan simpati ketika bencana datang. Mereka membutuhkan kepastian bahwa kerusakan diperbaiki, infrastruktur diperkuat dan risiko bencana berikutnya dikurangi.
Karena itu, di tengah ramainya pemberitaan tentang Solok, pertanyaan yang juga layak diajukan adalah:
Jika bencana baru menjadi panggung perhatian, siapa yang mengurus luka lama?
Sebab keberhasilan pemerintah dalam menghadapi bencana bukan hanya diukur dari seberapa cepat hadir saat bencana terjadi, tetapi juga dari seberapa serius membangun kembali setelah bencana berlalu. (Yopi herdianysah)



