Nelwanews.com (Internasional) ║ Persediaan minyak mentah strategis Amerika Serikat terus mengalami pengurasan ekstrem di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Berdasarkan data terbaru dari Departemen Energi AS yang dilansir oleh Al Jazeera dan Financial Times pada 24 Agustus 2026, stok minyak di Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve / SPR) dilaporkan merosot sebesar 3,7 juta barel pada pekan lalu, sehingga total cadangan kini berada di angka 289,7 juta barel.

 

Angka tersebut mencatatkan rekor penurunan terdalam yang membawa persediaan minyak darurat AS ke level terendahnya sejak November 1982.

 

Penyusutan cadangan ini merupakan kelanjutan dari komitmen kebijakan yang disepakati Washington pada bulan Maret lalu. Saat itu, pemerintah AS mengesahkan pelepasan total hingga 172 juta barel dari fasilitas penyimpanan darurat tersebut. Langkah agresif ini terpaksa ditempuh untuk mengimbangi gangguan pasokan energi global yang parah akibat konflik militer AS-Israel melawan Iran, yang berujung pada hampir tertutupnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

 

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur nadi perdagangan energi internasional yang normalnya menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Praktis terhentinya lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut akibat eskalasi perang telah memicu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak modern.

 

Baca Juga :

AS Lancarkan “Economy D-Day”: Ancam Sanksi Berat Mitra Dagang Iran

 

Analis pasar energi global dari The Cradle dan Al Monitor mencatat bahwa pengurasan cadangan strategis ini menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh Amerika Serikat demi menjaga stabilitas harga minyak dunia agar tidak melonjak ke level yang lebih katastrofik.

 

Kendati demikian, para ahli memperingatkan bahwa langkah ini tidak dapat terus-menerus diandalkan dalam jangka panjang. Tingkat penarikan yang agresif dikhawatirkan dapat mendekati batas operasional minimum fasilitas penyimpanan, yang pada akhirnya justru akan meninggalkan Washington dalam posisi rentan terhadap guncangan pasokan di masa depan apabila kebuntuan geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut.